Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
19 Oktober 2026 | 15:59:10 WIB
Dua Prestasi Nasional Sekaligus, Dosen UBB Juara 1 Video Pembelajaran dan Juara 4 Infografik BIPA 2026
BANGKA — Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Jurusan Pendidikan Keguruan, Bahasa, dan Sastra (JPKBS), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Bangka Belitung (UBB), Uky Eji Anggara, M.Pd., menorehkan prestasi nasional dalam Sayembara Alih Wahana Bahan Ajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Tahun 2026. Dalam ajang yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Uky berhasil meraih Juara 1 kategori Video Pembelajaran dan Juara 4 kategori Infografik Pembelajaran.
Prestasi tersebut ditetapkan melalui Keputusan Kuasa Pengguna Anggaran Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Nomor 003/KPA/2026 tentang Peserta Terbaik dan Dana Pemberdayaan bagi Peserta Terbaik Sayembara Alih Wahana Bahan Ajar BIPA 2026, yang ditetapkan di Bogor pada 12 Oktober 2026.
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi Universitas Bangka Belitung sekaligus menunjukkan kontribusi dosen dalam mengembangkan inovasi pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing melalui pemanfaatan media pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan kontekstual.
Berawal dari Ketertarikan pada Pengembangan BIPA
Keikutsertaan Uky dalam sayembara ini berangkat dari ketertarikannya terhadap kegiatan yang berkaitan dengan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Selain menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas, partisipasi dalam kompetisi tersebut juga menjadi bagian dari upayanya membangun portofolio akademik dan mendukung pengembangan institusi.
“Jujur, awalnya saya tidak menyangka sama sekali. Ketika diumumkan, rasanya sangat senang, bangga, dan haru karena bisa berhasil meraih juara,” ungkap Uky saat merefleksikan pencapaiannya.
Sayembara ini diikuti oleh peserta dari beragam latar belakang, antara lain dosen, guru, praktisi BIPA, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia bagi penutur asing. Keberagaman tersebut menunjukkan adanya ketertarikan berbagai kalangan untuk berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran BIPA.
Dalam sayembara tersebut, Uky mengembangkan tiga karya pada kategori Infografik Pembelajaran, Gim Digital Interaktif, dan Video Pembelajaran. Ketiganya mengacu pada buku Sahabatku Indonesia terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa tahun 2019.
Pengembangan karya dilakukan dengan memperhatikan tujuan pembelajaran, karakteristik pemelajar, materi bahasa, serta bentuk media yang sesuai. Proses perancangan menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan perhatian besar karena berbagai unsur perlu ditentukan sejak awal.
“Pastinya, proses yang paling menyita pikiran adalah ketika merancang. Ada banyak hal yang perlu ditentukan sejak awal, seperti langkah-langkah, tujuan pembelajaran, dan lain-lain,” jelasnya.
Dalam proses penilaian, karya peserta dinilai berdasarkan sejumlah aspek, meliputi isi, bahasa, penyajian, dan kompleksitas produksi. Karya juga harus memenuhi ketentuan teknis sesuai kategori yang diikuti.
Menurut Uky, pengembangan media pembelajaran membutuhkan perencanaan yang matang agar bentuk penyajian, penggunaan bahasa, dan materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan serta tujuan pembelajaran BIPA.
Tiga Karya dengan Pendekatan Pembelajaran yang Berbeda
Pada kategori Infografik Pembelajaran, Uky mengembangkan karya berjudul “Salam: Cara Menyapa dalam Bahasa Indonesia” untuk pemelajar BIPA 1, Unit 1: Salam. Infografik tersebut menyajikan ungkapan salam berdasarkan waktu, cara menanyakan kabar, sapaan kepada teman dan orang yang lebih tua, ungkapan berpamitan, serta pengenalan salam dalam keberagaman masyarakat Indonesia.

Melalui ilustrasi dan contoh situasi komunikasi, infografik ini dirancang untuk membantu pemelajar mengenali ungkapan bahasa Indonesia yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kategori Gim Digital Interaktif, Uky merancang “Misi Makan Siang!”, yang mengadaptasi materi BIPA 2, Unit 5: Makanan Kesukaan. Gim ini dikembangkan sebagai pengalaman belajar berbasis misi melalui pilihan makanan, aktivitas menyimak, pengenalan kosakata, pemilihan bahan, dan simulasi memasak. Pendekatan tersebut dirancang untuk mendorong pemelajar berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Sementara itu, pada kategori Video Pembelajaran, Uky menghasilkan karya berjudul “Alat Musik Favoritku” yang mengacu pada materi BIPA 2, Unit 1: Alat Musik Kesukaan. Video tersebut dirancang untuk mengintegrasikan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, sekaligus memperkenalkan pengetahuan kebahasaan dan wawasan keindonesiaan.

Melalui konteks percakapan di tempat kursus musik, pemelajar diajak memahami informasi tentang alat musik, mengungkapkan alat musik dan jenis musik favorit, membaca teks deskripsi tentang gitar, serta menulis deskripsi sederhana. Video ini juga memperkenalkan Tohpati sebagai gitaris jazz Indonesia dan menyinggung keberagaman alat musik tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Uky menjelaskan bahwa dalam merancang video tersebut, ia berupaya mengintegrasikan tujuan pembelajaran bahasa dengan konteks budaya Indonesia. Materi tidak hanya mengenalkan alat musik, tetapi juga mengajak pemelajar memahami percakapan, mengungkapkan kesukaan, memahami teks deskripsi, dan berlatih menulis.
Video tersebut turut memuat unsur kebahasaan, seperti penggunaan kata terfavorit dan cukup, serta wawasan keindonesiaan melalui pengenalan tokoh musik Indonesia. “Saya berupaya menyajikan materi tersebut melalui media audiovisual yang mendukung pemahaman pemelajar,” jelasnya.
Ketiga karya tersebut menunjukkan upaya mengalihwahanakan bahan ajar dari bentuk cetak ke media digital menggunakan Canva dengan pendekatan yang lebih beragam, tanpa mengesampingkan tujuan pembelajaran sebagai landasan utama pengembangan media.
Meski berhasil meraih prestasi nasional, Uky menyampaikan bahwa karya-karya tersebut belum digunakan secara langsung dalam kelas BIPA. Oleh karena itu, ia belum memiliki data mengenai respons pemelajar berdasarkan penerapan media tersebut dalam pembelajaran di kelas.
Budaya Lokal sebagai Bagian Penting Pembelajaran BIPA
Bagi Uky, pengembangan bahan ajar BIPA idealnya tidak hanya berfokus pada penguasaan struktur dan keterampilan bahasa. Pembelajaran juga perlu terhubung dengan lingkungan budaya tempat pemelajar mempelajari bahasa Indonesia. “Bahan ajar BIPA idealnya adalah bahan ajar yang bisa kita kaitkan dengan konteks budaya lokal setempat, yaitu di mana pemelajar itu belajar BIPA,” ujarnya.
Menurutnya, budaya lokal dapat menjadi konteks yang membantu pemelajar memahami bahasa secara lebih bermakna. Lingkungan, tradisi, kesenian, makanan, dan kebiasaan masyarakat dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang mendekatkan bahasa dengan pengalaman nyata pemelajar.
Sejalan dengan pandangan tersebut, Uky berencana mengembangkan media pembelajaran BIPA yang mengintegrasikan teknologi digital dengan budaya lokal Bangka Belitung. Pengembangan ini diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan kekayaan budaya daerah sebagai bagian dari materi pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing.
Dalam konteks Universitas Bangka Belitung, pendekatan tersebut juga menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kepulauan Bangka Belitung kepada pemelajar asing. Dengan demikian, pembelajaran BIPA tidak hanya menjadi sarana mempelajari bahasa, tetapi juga ruang untuk mengenal dan memahami keberagaman budaya Indonesia.
Apresiasi Program Studi dan Harapan untuk Sivitas Akademika UBB
Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bangka Belitung, Muhammad Rozani, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas pencapaian Uky Eji Anggara, M.Pd., yang berhasil meraih Juara 1 kategori Video Pembelajaran dan Juara 4 kategori Infografik Pembelajaran dalam Sayembara Alih Wahana Bahan Ajar BIPA 2026.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi capaian membanggakan sekaligus menunjukkan upaya dosen dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing. “Kami berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi bagi dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia untuk terus berkarya, mengembangkan kompetensi, dan berkontribusi dalam pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia,” ungkap Rozani.
Ia juga berharap inovasi media pembelajaran BIPA terus dikembangkan dengan mengangkat kekayaan budaya lokal Bangka Belitung sehingga dapat berkontribusi dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Sementara itu, Uky menyampaikan bahwa dukungan moril dari program studi turut menjadi dorongan baginya untuk terus berkarya dan mengembangkan diri, khususnya dalam bidang pembelajaran BIPA.
Bagi Uky, pencapaian dalam Sayembara Alih Wahana Bahan Ajar BIPA 2026 bukanlah akhir dari proses pengembangan diri. Ia berharap prestasi tersebut menjadi langkah awal untuk terus berkarya sekaligus memotivasi sivitas akademika lainnya agar berani mengembangkan kreativitas dan inovasi di bidang pendidikan. “Semoga ini menjadi langkah awal untuk terus bisa berprestasi dan memotivasi mahasiswa serta dosen lainnya,” tuturnya.
Ia juga berharap bahasa Indonesia semakin dikenal dan digunakan di tingkat internasional seiring dengan berkembangnya pembelajaran BIPA di berbagai negara dan konteks pembelajaran. “Harapan saya, bahasa Indonesia bisa terus mendunia. BIPA di hati,” ungkapnya.
Kepada rekan dosen dan pendidik yang ingin mengembangkan inovasi pembelajaran atau mengikuti kompetisi, Uky menyampaikan pesan sederhana berdasarkan pengalamannya. “Mulai dan coba saja dulu,” pesannya.
Prestasi ini diharapkan semakin mendorong Universitas Bangka Belitung untuk mendukung kreativitas akademik, inovasi pembelajaran, serta kontribusi sivitas akademika dalam memperluas peran bahasa Indonesia di tingkat nasional maupun internasional. (Humas UBB)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM