Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
24 September 2026 | 08:19:05 WIB
UBB dan BNN Kota Pangkalpinang Perkuat Karakter Antikorupsi Mahasiswa Berbasis Budaya Bangka Belitung
Bangka, UBB — Universitas Bangka Belitung (UBB) bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pangkalpinang mendorong penguatan integritas mahasiswa sejak dini melalui Kuliah Umum Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) bertema “Karakter Antikorupsi sebagai Budaya Masyarakat Bangka Belitung: Membangun Integritas Mahasiswa Sejak Dini di Lingkungan Akademik dan Masyarakat”, Rabu (23/9/2026), di Ruang Balai Besar Peradaban, Gedung Rektorat UBB, Kampus Terpadu UBB.
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala BNN Kota Pangkalpinang, Kombes Pol Muhammad Nizar, S.E., sebagai narasumber. Kuliah umum menjadi bagian dari upaya memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai pentingnya membangun karakter antikorupsi dan integritas sejak berada di lingkungan akademik.
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UBB, Dr. Sujadmi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kombes Pol Muhammad Nizar sebagai narasumber dalam kuliah umum tersebut.
Ia menilai kehadiran narasumber dari BNN Kota Pangkalpinang memberikan nilai penting bagi mahasiswa karena tidak hanya memperkuat pemahaman akademik, tetapi juga memberikan perspektif langsung mengenai pentingnya membangun integritas, kedisiplinan, dan karakter antikorupsi sejak berada di lingkungan perguruan tinggi.
Dr. Sujadmi juga berharap materi yang disampaikan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam membangun kebiasaan positif yang dapat diterapkan selama menjalani kehidupan akademik maupun ketika nantinya berada di tengah masyarakat. Wakil Rektor I UBB Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Dr. Devi Valeriani, S.E., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa karakter antikorupsi memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan kampus. Menurutnya, perilaku koruptif tidak selalu bermula dari penyalahgunaan anggaran dalam jumlah besar, tetapi dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dianggap biasa.
“Korupsi tidak selalu dimulai dari penyalahgunaan anggaran yang besar, tetapi dapat berawal ketika seseorang menganggap menyontek, memalsukan kehadiran, menjiplak karya, atau memakai amanah organisasi untuk kepentingan pribadi sebagai hal yang biasa,” ujar Prof. Devi. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa, tidak hanya melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga melalui pembiasaan nilai-nilai integritas.
Prof. Devi menyampaikan bahwa pembangunan integritas masih menjadi tantangan bersama. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Perilaku Antikorupsi Indonesia tahun 2024 sebesar 3,85 pada skala 0–5, turun dari 3,92 pada 2023. Sementara itu, hasil pengukuran integritas pendidikan menunjukkan masih perlunya penguatan nilai integritas di lingkungan pendidikan.
“Data tersebut memberikan pesan yang sama: pengetahuan tentang kejujuran harus diwujudkan dalam perilaku dan tata kelola sehari-hari,” katanya.
Budaya Lokal sebagai Modal Membangun Integritas Prof. Devi juga mengajak mahasiswa menggali nilai-nilai budaya masyarakat Bangka Belitung sebagai modal sosial dalam membangun karakter antikorupsi. Salah satunya melalui tradisi nganggung dengan semangat sepintu sedulang, yang mengandung nilai kepedulian, kebersamaan, kontribusi, dan tanggung jawab terhadap sesama.
“Nilai ini dapat kita bawa ke kampus: tugas kelompok dikerjakan bersama secara adil, dana kegiatan dipertanggungjawabkan secara terbuka, dan kesempatan diberikan berdasarkan kemampuan serta aturan yang berlaku,” jelasnya. Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut harus diterjemahkan dalam perilaku nyata, termasuk bertanggung jawab dan menjaga amanah.
“Ini adalah penerapan nilai budaya dalam kehidupan akademik, bukan klaim bahwa sebuah tradisi dengan sendirinya menghilangkan korupsi,” tegas Prof. Devi.
Kombes Nizar: Integritas Dibangun dari Kebiasaan Sehari-hari.
Sementara itu, Kombes Pol Muhammad Nizar, S.E., dalam paparannya memberikan penguatan mengenai pentingnya pembentukan karakter antikorupsi sejak mahasiswa berada di lingkungan perguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa perilaku koruptif merupakan tindakan atau kebiasaan yang menyimpang dari nilai kejujuran, integritas, tanggung jawab, serta aturan yang berlaku, terutama ketika jabatan, kewenangan, atau kepercayaan digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi maupun kelompok.
Menurutnya, perilaku koruptif tidak selalu berbentuk korupsi dalam jumlah besar. Perilaku tersebut dapat bermula dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele dan terus dibiarkan hingga akhirnya dianggap wajar. Kombes Nizar turut menyinggung pentingnya budaya antikorupsi dalam menopang kemajuan sebuah negara. Ia mencontohkan sejumlah negara yang menurutnya memiliki kedisiplinan dan budaya integritas yang kuat. “Kokoh dan besarnya negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Korea, bisa dikatakan perilaku koruptifnya sangat rendah, bahkan bisa dikatakan zero. Termasuk Singapura dan negara-negara lainnya,” ujar Kombes Nizar.
Menurutnya, pembangunan suatu bangsa tidak hanya bertumpu pada kekuatan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang menjunjung kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap aturan.
Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku koruptif dapat muncul melalui tindakan sederhana seperti berbohong, menyontek, memanipulasi data, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menggunakan fasilitas untuk kepentingan pribadi, maupun mengabaikan aturan demi keuntungan tertentu.
Karena itu, pencegahan harus dimulai dari diri sendiri melalui pembiasaan sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, adil, transparan, serta keberanian menolak kecurangan.
Kenali Perilaku Koruptif Sejak Dini
Kombes Nizar menjelaskan bahwa bentuk perilaku koruptif dapat ditemukan baik pada sektor publik maupun kehidupan sehari-hari. Pada sektor publik, perilaku tersebut antara lain berupa penyalahgunaan wewenang dan fasilitas negara, manipulasi anggaran, pungutan liar, suap dan gratifikasi terkait jabatan, nepotisme, mark-up pengadaan barang dan jasa, hingga pemberian kemudahan kepada pihak tertentu tanpa dasar yang sah.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, perilaku koruptif dapat terlihat melalui tindakan seperti menyontek atau plagiarisme, berbohong untuk mendapatkan keuntungan, menggunakan barang milik orang lain tanpa izin, memanipulasi informasi, hingga membiarkan kecurangan karena dianggap biasa.
Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa karakter antikorupsi dibangun melalui pilihan sederhana. Kebiasaan yang ditanamkan sejak dini akan membentuk cara seseorang bertindak ketika kelak mendapatkan tanggung jawab atau kewenangan yang lebih besar.
Penerapan Integritas di Kampus
Kombes Nizar juga menekankan bahwa integritas harus diterapkan secara nyata dalam kehidupan kampus. Mahasiswa dapat memulainya dari hal-hal sederhana yang berkaitan langsung dengan kegiatan akademik. Penerapan tersebut antara lain mengerjakan tugas dan ujian secara jujur, tidak menyontek, tidak memalsukan data, menghindari plagiarisme, serta mencantumkan sumber secara benar.
Selain itu, integritas juga tercermin melalui kedisiplinan mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas tepat waktu, menaati tata tertib, serta bertanggung jawab terhadap tugas kelompok sesuai pembagian yang telah disepakati. Mahasiswa juga diingatkan untuk tidak memanipulasi daftar kehadiran, hasil penelitian, maupun dokumen perkuliahan, serta bersikap adil dan menghargai sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang maupun kedekatan pribadi.
Kombes Nizar mendorong mahasiswa berani menolak dan mengingatkan ketika melihat kecurangan. Integritas juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap fasilitas kampus dengan menggunakan sarana dan prasarana sesuai peruntukannya. Dengan demikian, integritas tidak berhenti sebagai konsep, tetapi harus terlihat melalui kebiasaan dan tindakan mahasiswa selama menjalani kehidupan akademik.
Mahasiswa sebagai Generasi Penjaga Integritas
Kombes Nizar menempatkan mahasiswa sebagai kelompok strategis dalam membangun budaya integritas. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga calon pemimpin, profesional, aparatur, pengusaha, maupun bagian dari masyarakat yang kelak memegang berbagai tanggung jawab.
Karena itu, kebiasaan yang dibangun selama berada di perguruan tinggi akan turut membentuk cara mahasiswa bersikap ketika memasuki kehidupan profesional dan sosial. Penguatan karakter antikorupsi tersebut juga dikaitkan dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Bangka Belitung. Semangat kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab, dan menjaga kepercayaan dapat menjadi modal dalam menumbuhkan perilaku yang menjunjung integritas.
Pesan tersebut sejalan dengan penguatan nilai antikorupsi yang disampaikan Prof. Devi bahwa karakter harus dilatih melalui tindakan nyata.
“Mahasiswa belajar berani berkata jujur meskipun ada risiko nilainya lebih rendah, menolak titip absen meskipun diminta teman, dan mengakui sumber gagasan yang digunakan,” tuturnya. Ia juga menekankan bahwa pembentukan karakter antikorupsi bukan hanya tanggung jawab mahasiswa. Dosen dan pimpinan perguruan tinggi juga harus memberikan keteladanan melalui penilaian yang adil, pelayanan yang jelas, serta keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
KPK sendiri merumuskan sembilan nilai antikorupsi, yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.
“Nilai-nilai itu baru bermakna ketika tampak dalam tindakan kita,” ujar Prof. Devi.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Prof. Devi berharap kuliah umum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran, tetapi mampu melahirkan komitmen nyata mahasiswa dalam menjaga integritas. “Jangan mengambil yang bukan hak kita, jangan mengaku hasil kerja orang lain sebagai milik kita, dan jangan diam ketika amanah disalahgunakan,” pesannya.
Menurutnya, semangat sepintu sedulang yang mengajarkan masyarakat membawa bagian masing-masing demi kepentingan bersama dapat menjadi inspirasi dalam membangun budaya antikorupsi. “Jika semangat sepintu sedulang mengajarkan kita membawa bagian untuk kepentingan bersama, maka karakter antikorupsi mengajarkan kita menjaga agar bagian bersama itu tidak diambil untuk kepentingan sendiri,” ungkap Prof. Devi.
Melalui kuliah umum ini, UBB berharap mahasiswa semakin memahami bahwa integritas bukan sekadar konsep di ruang kelas, melainkan nilai yang harus dibangun sejak dini dan diterapkan secara konsisten dalam kehidupan akademik maupun masyarakat. Kolaborasi UBB dan BNN Kota Pangkalpinang tersebut sekaligus memperkuat komitmen perguruan tinggi dalam membentuk generasi muda yang memiliki kompetensi akademik, karakter, integritas, tanggung jawab, serta keberanian menjaga nilai-nilai kejujuran. (Humas UBB)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM