Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
Kabar UBB
Universitas Bangka Belitung
06 Juli 2026 | 09:18:57 WIB
Tak Ingin Ada Talenta Indonesia Gagal Kuliah karena Biaya, Kemdiktisaintek Minta PTN Lakukan Penelusuran

Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meminta seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) untuk melakukan penelusuran terhadap calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru namun belum melakukan registrasi ulang. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan tidak ada talenta muda Indonesia yang kehilangan kesempatan menempuh pendidikan tinggi semata-mata karena kendala ekonomi.
Penelusuran dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai berbagai faktor yang memengaruhi keputusan calon mahasiswa tidak melanjutkan proses registrasi. Kemdiktisaintek menghormati sepenuhnya keputusan calon mahasiswa yang memilih perguruan tinggi atau jalur pendidikan lain. Namun, apabila penyebab utama tidak melakukan registrasi ulang adalah keterbatasan ekonomi, PTN diminta berkomunikasi secara aktif dengan calon mahasiswa tersebut guna mencari solusi terbaik sesuai ketentuan yang berlaku.
Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah melakukan peninjauan kembali penetapan kelompok Uang Kuliah Tunggal (UKT) sesuai kondisi ekonomi keluarga, disertai optimalisasi berbagai skema bantuan pendidikan yang dimiliki perguruan tinggi agar mahasiswa yang memiliki potensi akademik tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengapresiasi berbagai terobosan yang telah dilakukan pimpinan PTN dalam membantu mahasiswa yang menghadapi kendala ekonomi agar tetap dapat melanjutkan studi. Berbagai upaya tersebut antara lain penyesuaian kelompok UKT sesuai kondisi ekonomi mahasiswa, penyediaan beasiswa yang didanai oleh perguruan tinggi, dukungan beasiswa dari alumni dan mitra, hingga program work scholarship yang memungkinkan mahasiswa memperoleh bantuan biaya pendidikan sekaligus pengalaman kerja.
Berbagai praktik baik tersebut kini telah dilakukan oleh banyak PTN di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Universitas Mataram (Unram) yang menerapkan kebijakan UKT berdasarkan kemampuan ekonomi mahasiswa. Berdasarkan data Unram, sekitar 42 persen mahasiswa membayar UKT pada kelompok terendah, yakni antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per semester, belum termasuk sekitar 30 persen mahasiswa lainnya yang berada pada Kelompok UKT III. Selain itu, 690 mahasiswa memperoleh pembebasan UKT sepenuhnya, termasuk 13 mahasiswa Program Studi Kedokteran, sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa membayar biaya kuliah. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi, termasuk pada program studi kedokteran, tetap terbuka bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Kemdiktisaintek juga mengapresiasi sejumlah pemerintah daerah yang menunjukkan komitmen dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui penyediaan program beasiswa bagi putra-putri daerah. Program beasiswa yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Timur, dan sejumlah daerah lainnya menjadi contoh nyata sinergi pemerintah daerah dalam memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, alumni, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa perluasan akses pendidikan tinggi merupakan tanggung jawab bersama. Semangat gotong royong tersebut diharapkan semakin memperkecil hambatan ekonomi yang dihadapi calon mahasiswa.
Menteri Brian menegaskan bahwa negara harus hadir memastikan tidak ada anak bangsa yang batal melanjutkan pendidikan tinggi hanya karena persoalan biaya.
“Kami menghormati setiap pilihan calon mahasiswa. Apabila mereka memilih perguruan tinggi lain atau jalur pendidikan lain, tentu itu merupakan hak masing-masing. Namun apabila terdapat calon mahasiswa yang tidak melanjutkan studi karena kendala ekonomi, kami ingin memastikan negara hadir memberikan solusi. Jangan sampai ada anak-anak Indonesia yang memiliki kemampuan akademik dan semangat belajar, tetapi kehilangan kesempatan kuliah hanya karena persoalan biaya,” ujar Menteri Brian.
Menurut Menteri Brian, pendidikan tinggi merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Karena itu, setiap talenta terbaik Indonesia harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarga.
Langkah penelusuran ini juga menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap sistem penerimaan mahasiswa baru. Informasi yang diperoleh dari PTN akan menjadi dasar penyempurnaan berbagai kebijakan, mulai dari mekanisme penerimaan mahasiswa, layanan informasi kepada calon mahasiswa, hingga penguatan berbagai skema afirmasi dan bantuan pendidikan agar semakin tepat sasaran.
Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, Kemdiktisaintek berkomitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang semakin inklusif, bermutu, dan berkeadilan. Melalui langkah tersebut, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap talenta terbaik Indonesia memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mengembangkan potensinya, tanpa terhalang oleh kondisi ekonomi keluarga. (Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM