UBB Perspective
Universitas Bangka Belitung
Artikel UBB
Universitas Bangka Belitung's Article
19 Agustus 2025 | 08:03:13 WIB
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Ditulis Oleh : Berlian Birly Aeywaldy
Ditulis Oleh: Berlian Birly Aeywaldy, Tania Januarti, Shakira Mahendra Putri, Anis, Amirah Tsania Khansa

Foto bersama Tim Riset UBB dengan Kepala Camat Kepulauan Pongok dan Sekretaris Camat sekaligus Pj. Kepala Desa Celagen
Kecamatan Kepulauan Pongok terbentuk pada tanggal 12 Juli 2012 yang diresmikan secara langsung oleh bupati Bangka Selatan setelah adanya pemekaran wilayah administratif yang relatif baru. Pembentukan kecamatan ini adalah bagian dari desentralisasi pemerintahan untuk memberikan layanan terbaik kepada masyarakat kepulauan. Pulau ini sebelumnya merupakan bagian dari Kecamatan Lepar Pongok, tetapi dibuat terpisah untuk meningkatkan kinerja pemerintahan lokal.
Secara administratif, Kecamatan Kepulauan Pongok terdiri dari dua pulau utama, yaitu Pulau Pongok dan Pulau Celagen. Kedua pulau tersebut, memiliki karakteristik dan potensi yang erat dengan kehidupan pesisir. Pulau-pulau ini membentuk satu kesatuan wilayah administratif yang dikelilingi oleh perairan laut.
Dari segi geografis, wilayah ini berbatasan langsung dengan Selat Gaspar di sisi utara dan timur, dan di sisi lain berbatasan dengan Laut Jawa. Struktur ekonomi masyarakat setempat secara langsung dipengaruhi oleh letak geografisnya sebagai kepulauan yang dikelilingi laut lepas.
Sebagai hasil dari kondisi geografis yang memberikan akses langsung ke sumber daya laut yang melimpah, sekitar 95% dari penduduk Kepulauan Pongok bekerja sebagai nelayan. Perikanan tidak hanya memajukan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi mata pencaharian utama dan pusat ekonomi bagi masyarakat di wilayah Kepulauan Pongok. Di balik kekayaan laut dan kesibukan aktivitas nelayan, terselip persoalan sosial yang jarang mendapat sorotan yaitu tingginya jumlah remaja yang putus sekolah.
Kehidupan masyarakat Kepulauan Pongok yang sangat bergantung pada laut membentuk pandangan bahwa melaut adalah pilihan hidup paling realistis. Bagi sebagian keluarga, sekolah kerap dipandang hanya sebagai formalitas yang membutuhkan biaya besar, sementara menebar jaring di laut dapat memberikan penghasilan langsung setiap harinya. Keputusan meninggalkan bangku sekolah dan beralih menjadi nelayan bukan semata karena kurangnya minat belajar, melainkan akibat tekanan ekonomi dan keterbatasan akses pendidikan yang mendorong mereka memilih kebutuhan hari ini dibandingkan masa depan.
Inilah dilema yang dihadapi para remaja di wilayah ini tetap mengikuti jejak tradisi atau berani melawan arus demi meraih peluang baru. Dalam kenyataannya, pendidikan sering kali kalah saing oleh godaan penghasilan cepat dari pekerjaan melaut. Tidak sedikit remaja yang memutuskan untuk membantu orang tua di laut dengan alasan “lebih cepat mendapatkan uang”, meskipun hasil yang diperoleh kerap tidak menentu dan sangat dipengaruhi musim tangkapan.
Bagi mereka, laut menawarkan solusi instan untuk kebutuhan harian, sedangkan sekolah hanya memberi harapan yang terasa jauh dan belum tentu terwujud. Keadaan ini diperburuk oleh jarak sekolah yang sulit dijangkau sebagian anak, seperti anak yang dari Desa Celagen yang harus menyeberangi laut untuk bersekolah di Desa Pongok. Perlahan, kondisi tersebut membentuk pandangan bahwa putus sekolah bukanlah suatu kegagalan, melainkan keputusan yang dapat diterima.
Pilihan tersebut sebenarnya menyimpan risiko besar bagi masa depan. Dampak perubahan iklim, kondisi cuaca yang kian tidak menentu, serta ketatnya persaingan pasar membuat hasil tangkapan ikan semakin sulit diprediksi. Tanpa bekal keterampilan di luar dunia melaut, generasi muda Kepulauan Pongok akan menghadapi kesulitan dalam merespons tantangan ekonomi yang semakin rumit. Ironisnya, mereka justru akan terus terjebak dalam ketergantungan pada laut. Sudah saatnya Kepulauan Pongok memutus lingkaran pilihan yang seolah hanya memberi dua jalan yaitu menjadi nelayan atau berhenti bermimpi.
Pendidikan tidak harus memisahkan anak dari laut, melainkan dapat menjadi petunjuk yang menuntun mereka bisa memahami perubahan ke arah yang berkelanjutan. Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang relevan, generasi muda bisa tetap menjaga warisan bahari sekaligus membuka peluang di luar batas harapan. Jika jaring adalah simbol penghidupan hari ini, maka buku adalah simbol harapan untuk esok. Ketika keduanya dipegang erat, masa depan Kepulauan Pongok tidak akan lagi sekadar bergantung pada ombak, tetapi juga pada gelombang gagasan yang lahir dari anak-anaknya yang terdidik dan berdaya.
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM
Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi
Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru
Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi
PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)
Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan
PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA
Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi
Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan
SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?
KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA
Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus
Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai
Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi
Hybrid Learning dan Skenario Terbaik
NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN
Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu
PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN
Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi
Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital
Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB
TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA
Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai
ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)
PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit
NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU