UBB Perspective
Universitas Bangka Belitung
Artikel UBB
Universitas Bangka Belitung's Article
11 Juni 2024 | 10:37:28 WIB
Carbon Offset : Blue Ocean dan Carbon Credit
Ditulis Oleh : Wahri Sunanda

Dosen Teknik Elektro Universitas Bangka Belitung, Mahasiswa Doktor Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada
PARIS Agreement. Komitmen itu tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang telah disesuaikan menjadi Enhanced NDC pada tahun 2022. Dalam dokumen Enhanced NDC tertuang bahwa target reduksi emisi 43,2 persen dengan dukungan internasional dan 31,89 persen tanpa dukungan internasional.
Salah satu instrumen yang dilakukan pemerintah adalah carbon offset. Carbon offset sendiri merupakan upaya untuk mereduksi emisi karbon melalui kegiatan penyeimbangan jejak karbon melalui pembiayaan proyek hijau yang dilakukan pemerintah atau pihak swasta.
Carbon offset salah satunya dapat dilakukan melalui skema blue carbon. Blue carbon mengacu pada kemampuan ekosistem pesisir untuk menangkap dan menyimpan karbon di dalam tanah dan biomassa. Ekosistem ini mempunyai kemampuan menyimpan karbon 30-50 kali lebih cepat dibandingkan hutan terrestrial.
Ekosistem yang berkontribusi untuk blue carbon dapat berasal dari mangrove, rawa, padang lamun, dan terumbu karang. Dari mangrove sendiri, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mempunyai potensi penyerapan 275 juta carbon dari 273.692,81 hektare. Namun dengan kondisi lingkungan saat ini, potensi penyerapan karbon menjadi berkurang. Karenanya perlu aksi bersama antara pemerintah dan berbagai pihak untuk mengembalikan luasan hutan mangrove.
Selain potensi blue carbon yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, carbon offset juga dapat berasal dari penerapan program energi baru terbarukan. Upaya ini tidak hanya mereduksi emisi dari karbon yang dihasilkan pembangkit berbasis energi fosil, namun juga peluang green job melalui implementasi program energi baru terbarukan.
Hingga akhir tahun 2023, kebutuhan energi listrik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dipasok utamanya berasal dari pembangkit berbasis energi fosil, baik PLTU maupun PLTD. Sementara itu, energi baru terbarukan baru berkontribusi 0,35 MW dari total 346,78 MW kapasitas pembangkit yang terpasang. Hal ini juga sebagai cerminan dengan kondisi pembangkit energi listrik di Indonesia yang dominan dari energi fosil dengan lebih dari 60 persennya berasal dari batu bara.
Berdasarkan rancangan umum energi daerah (RUED), Bangka Belitung memiliki potensi biomassa/biofuel 217,7 MW, potensi biogas sejumlah 5,4 MW, potensi surya 2810 MW, dan potensi angin 1787 MW. Potensi ini baru berasal dari sumber energi terbarukan, belum terhitung dengan potensi 170 ribu ton thorium sebagai sumber energi bagi PLTN.
Optimalisasi pemanfaatan energi baru terbarukan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah telah menerbitkan Perpres Nomor 112 Tahun 2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik sebagai upaya untuk mengakselerasi bauran energi baru terbarukan di Indonesia. Selain itu, dukungan internasional juga sudah tertuang G20 Leader Summit di Bali dengan telah dirilisnya Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk menargetkan pencapaian net zero emission dari sektor tenaga listrik pada tahun 2050.
Pengembangan energi baru terbarukan yang makin meningkat jumlahnya setiap tahun akan memberikan kontribusi positif terkait peningkatan potensi carbon offset. Karenanya, potensi carbon offset di Bangka Belitung baik dalam bentuk blue carbon maupun carbon offset dapat mendukung pencapaian target net zero emisi di Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat sebagai bentuk realisasi komitmen Indonesia pada perubahan iklim dunia, dan tentunya juga akan berimplikasi pada revenue income bagi pemerintah dan stakeholder terkait maupun sekaligus membuka peluang green job bagi masyarakat Bangka Belitung.
(Artikel telah terbit di Bangkapos.com. edisi 5 Juni)
UBB Perspectives
Satu Visi, Banyak Budaya: Mengapa Integrasi SDM Global Tidak Semudah yang Dibayangkan
Menjaga Ekosistem: Investasi untuk Masa Depan Bumi
Antara Jaring dan Buku Pilihan Hidup Anak Remaja Putus Sekolah di Kepulauan Pongok
Validitas Peringkat UBB: Membongkar Anomali Webometrics
Meski Ilegal, Mengapa Bisnis Thrifting Terus Menjamur?
Tantangan Pemimpin Baru dan Ekonomi Bangka Belitung
Sastra, Kreativitas Intelektual, dan Manfaatnya Secara Ekonomi
Lindungi Anak Kita, Lindungi Masa Depan Bangsa
Akankah Pilkada Kita Berkualitas?
Hulu Hilir Menekan Overcrowded
Penguatan Gakkumdu untuk Mengawal Pesta Demokrasi Berkualitas
Hari Lingkungan Hidup: Akankah Lingkungan “Bisa” Hidup Kembali?
FAKTOR POLA ASUH DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK
MEMANFAATKAN POTENSI NUKLIR THORIUM DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG : PELUANG DAN DAMPAK LINGKUNGAN
Pengaruh Sifat Fisika, Kimia Tambang Timah Terhadap Tingkat Kesuburan Tanah di Bangka Belitung
Akuntan dan Jurnalis: Berkolaborasi Dalam Optimalisasi Transparan dan Pertanggungjawaban
Sustainable Tourism Wisata Danau Pading Untuk Generasi Z dan Alpa
Perlunya Revitalisasi Budaya Lokal Nganggung di Bangka Belitung
Semangat PANDAWARA Group: Dari Sungai Kotor hingga Eksis di Media Sosial
Pengaruh Pembangunan Produksi Nuklir pada Wilayah Beriklim Panas
Pendidikan dan Literasi: Mulailah Merubah Dunia Dari Tindakan Sederhana
Mengapa APK Perguruan Tinggi di Babel Rendah ?
Dekonstruksi Cara Pikir Oposisi Biner: Mengapa Perlu?
PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PUBLIK DENGAN ASAS GOOD GOVERNANCE
UMP Bangka Belitung Naik, Payung Hukum Kesejahteraan Pekerja atau Fatamorgana Belaka?
Peran Generasi Z di Pemilu 2024
Pemilu Serentak 2024 : Ajang Selebrasi Demokrasi Calon Insan Berdasi
Menelusuri Krisis Literasi Paradigma dan Problematik di Bumi Bangka Belitung
Jasa Sewa Pacar: Betulkah Menjadi sebuah Solusi?
Peran Sosial dan Politis Dukun Kampong
Mahasiswa dan Masalah Kesehatan Mental
Analogue Switch-off era baru Industri pertelevisian Indonesia
Di Era Society 50 Mahasiswa Perlu Kompetensi SUYAK
HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia, sudah merdekakah kita?
Pemblokiran PSE, Pembatasan Kebebasan Berinternet?
Pentingnya Pemahaman Moderasi Beragama Pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Umum
SOCIAL MAPPING SEBAGAI SOLUSI TATA KELOLA SUMBER DAYA ALAM
Bisnis Digital dan Transformasi Ekonomi
Masyarakat Tontonan dan Risiko Jenis Baru
Penelitian MBKM Mahasiswa Biologi
PEREMPUAN DI SEKTOR PERTAMBANGAN TIMAH (Refleksi atas Peringatan Hari Kartini 21 April 2022)
Kiat-kiat Menjadi “Warga Negara Digital” yang Baik di Bulan Ramadhan
PERANG RUSIA VS UKRAINA, NETIZEN INDONESIA HARUS BIJAKSANA
Kunci Utama Memutus Mata Rantai Korupsi
Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan
SI VIS PACEM PARABELLUM, INDONESIA SUDAH SIAP ATAU BELUM?
KONKRETISASI BELA NEGARA SEBAGAI LANGKAH PREVENTIF MENGHADAPI PERANG DUNIA
Memaknai Sikap OPOSISI ORMAWA terhadap Birokrasi Kampus
Timah, Kebimbangan yang Tak akan Usai
Paradigma yang Salah tentang IPK dan Keaktifan Berorganisasi
Hybrid Learning dan Skenario Terbaik
NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN
Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu
PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN
Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi
Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital
Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB
TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA
Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai
ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)
PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN
Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit
NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU